BAYANGAN KEKUASAAN, UANG, DAN MANIPULASI: QUENTIN ANTOINE ALBERTI BUKA SUARA SOAL DUGAAN OPERASI YANG MENARGETKAN “H”Di AUSTRALIA

0
7

Bali Global News – DENPASAR

Quentine Antoine Alberti Statement;

Memberikan keterangan kepada media televisi Australia dan online di Bali setelah melewati fase persidangan di Pengadilan Negri Denpasar pada hari ini Kamis 21 Mei 2026.

Quentin Alberti akhirnya memecah kebisuannya terkait apa yang ia sebut sebagai kampanye terkoordinasi berupa manipulasi, penyalahgunaan pengaruh, dan tekanan institusional yang diduga telah menghancurkan hidupnya serta kehidupan seorang pria yang hanya disebut sebagai Si “H.”

Di hadapan media, Alberti menggambarkan Bali bukan hanya sebagai destinasi dunia yang identik dengan kebebasan, kemewahan, penyembuhan, dan pelarian dari kekacauan, tetapi juga sebagai tempat di mana jaringan pengaruh, uang, narkotika, dan manipulasi diduga bergerak di balik layar.

Quentine saat menggalami fase persidangan lalu

Menurut Alberti, konflik tersebut tidak bermula di Australia. Ia mengklaim fondasi dari operasi itu sudah berkembang lebih dulu di Bali melalui hubungan bisnis, koneksi pribadi, dan lingkaran sosial yang kemudian berubah menjadi upaya yang menurutnya sangat terorganisir.

Beberapa individu disebut memiliki keterkaitan dengan konflik tersebut, termasuk M.J.H, M.T.C, dan Megann Elise Isabel Augier.

Alberti juga menyatakan adanya pola yang perlahan terbentuk berupa isolasi, manipulasi, penghancuran reputasi, hingga upaya mengambil kendali atas dirinya dan si H.

Situasi disebut semakin membesar ketika konflik pribadi mulai terhubung dengan tokoh-tokoh berpengaruh di Sydney, Australia.

Alberti mengklaim bahwa sejumlah individu yang memiliki akses terhadap institusi hukum dan sistem legal ikut terlibat dalam membangun narasi terhadap si H.

Nama seperti Paul Adam Wheeler, Eoin O’Rayan, dan Mohammed Sharawy disebut sebagai pihak yang diduga memiliki hubungan dengan eskalasi kasus tersebut.

Menurut Alberti, Mohammed Sharawy diduga berperan dalam memfasilitasi akses informasi, menjaga komunikasi, serta membantu penyusunan materi yang kemudian digunakan dalam proses investigasi dan tindakan hukum terhadap H.

Ia juga menyoroti dugaan pelanggaran prosedural yang melibatkan individu-individu yang terhubung dengan Bondi Police Station.

Namun demikian, Alberti menegaskan bahwa ia tidak percaya seluruh aparat yang terlibat bertindak secara tidak terhormat atau memahami keseluruhan situasi yang sebenarnya.

“Korupsi tidak membutuhkan seluruh sistem untuk menjadi rusak. Hanya membutuhkan pengaruh yang cukup pada momen yang tepat,” ujar Alberti dalam pernyataannya.

Selain dugaan manipulasi hukum, Alberti juga mengungkap sisi gelap lain dari kasus tersebut yang sebelumnya belum pernah dipublikasikan, yakni tekanan finansial terhadap si H.

Sebelum tekanan hukum terhadap si H meningkat sepenuhnya, akun American Express Centurion milik H disebut sempat menjadi sasaran pemeriksaan internal setelah muncul informasi yang menurut Alberti dipicu oleh tuduhan menyesatkan dan pengaruh eksternal.

Dampaknya, menurut Alberti, terjadi secara langsung. Operasi keuangan terganggu, aktivitas bisnis terancam, dan tekanan terhadap si H meningkat secara signifikan.

Alberti juga menuduh bahwa individu-individu yang terhubung dengan operasi tersebut menggunakan hubungan tingkat tinggi dan pengaruh untuk memperbesar persoalan di lingkungan finansial internasional.

Menurutnya, situasi itu bahkan mencapai individu-individu yang berada di level sangat senior dan memiliki koneksi dengan American Express.

Meskipun pembicaraan mengenai kompensasi dan penanganan hukum disebut sempat terjadi di kemudian hari, Alberti menegaskan bahwa kerusakan terhadap kehidupan pribadi dan finansial H sudah terlanjur terjadi.

Kini, menurut Alberti, pihak-pihak yang terlibat mulai menyadari sesuatu yang tidak mereka perkirakan sebelumnya.

“Bukti masih ada. Komunikasi masih ada. Dan hubungan antara pengaruh, tekanan, serta keputusan institusional kini sedang diperiksa jauh lebih dalam dari yang pernah mereka bayangkan, ” tegasnya.

Alberti juga mengungkapkan bahwa pengamat internasional, organisasi independen, jurnalis investigasi, dan berbagai pihak eksternal kini mulai memantau perkembangan kasus tersebut secara serius.

Sebuah proyek dokumenter mengenai kasus ini bahkan disebut tengah diproduksi.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa banyak bukti dan materi penting masih belum dipublikasikan demi menghindari gangguan terhadap proses hukum dan investigasi yang masih berjalan.

Menutup pernyataannya, Alberti mengakui bahwa dirinya mengalami tekanan psikologis berat selama menghadapi situasi tersebut dan mengakui pernah melakukan kesalahan pada salah satu masa tergelap dalam hidupnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa dirinya memilih berbicara secara terbuka karena menolak untuk tetap diam menghadapi apa yang ia yakini sebagai korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

 

“Pada akhirnya, kebenaran tidak membutuhkan manipulasi untuk bertahan. Hanya membutuhkan waktu,” tutup Alberti.

 

 

Reporter : Daniel Herry

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini