Global News – UBUD
Empathy School secara resmi menegaskan kembali komitmen jangka panjangnya terhadap siswa, keluarga, serta komunitas pendidikan alternatif yang lebih luas di Bali. Pernyataan ini dikeluarkan guna merespons diskusi publik yang berkembang baru-baru ini terkait masalah administratif dan regulasi yang dihadapi oleh komunitas belajar tersebut.
​Pihak manajemen menekankan bahwa seluruh kegiatan belajar-mengajar harian tetap berjalan normal. Para siswa dipastikan tetap belajar dalam lingkungan yang berpusat pada anak (child-centered) dan berbasis proyek (project-based learning)—sebuah konsep pembelajaran holistik berbasis bukti (evidence-based research) yang sejak awal dipilih oleh para orang tua murid.

Langkah Strategis Menuju Perizinan Mandiri
​Empathy School, yang berawal sebagai komunitas homeschooling saat pandemi Covid-19, kini tengah bertransformasi dan berkembang pesat. Selama ini, registrasi resmi bagi siswa selalu difasilitasi dengan lancar melalui mitra pendidikan yang sah dan berizin formal.
​Saat ini, Empathy School sedang bekerja sama erat dengan otoritas pendidikan terkait untuk menyelesaikan pengurusan izin operasional mandiri demi menyambut tahun ajaran 2026–2027.
Langkah strategis ini dirancang agar Empathy School dapat menerbitkan ijazah resmi yang diakui langsung oleh Pemerintah Indonesia di masa mendatang. Bagi keluarga Indonesia, proses ini dipastikan akan mempermudah alur pendaftaran siswa. Untuk saat ini, siswa yang membutuhkan kredensial resmi tetap mendapatkannya melalui jalur kemitraan yang sudah berjalan.
“Tidak ada yang berubah dari pengalaman sehari-hari anak-anak,” ujar Abi Ardianda, Communication Officer Empathy.
“Ruang kelas kami tetap dipenuhi rasa ingin tahu, kreativitas, kolaborasi, dan kegembiraan. Kami percaya keunggulan akademik itu sangat penting, tetapi akademik saja tidak cukup untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi kehidupan yang sukses dan bermakna.”

Klarifikasi Terhadap Misinformasi Publik
​Menanggapi berbagai spekulasi yang beredar, pihak Empathy School memanfaatkannya sebagai momentum untuk meluruskan beberapa miskonsepsi publik terkait afiliasi dan referensi pendidikan mereka. Melalui rilis resmi ini, Empathy mengonfirmasi poin-poin berikut:
• ​Kualifikasi Pendiri: Pendiri Empathy School merupakan lulusan dari Harvard Graduate School of Education.
• ​Kurikulum: Di masa lalu, sekolah telah menyelaraskan standar akademik dengan kerangka kurikulum Cambridge, dan beberapa siswa memilih untuk mengikuti ujian Cambridge.
• ​Metode Pembelajaran: Metode yang terinspirasi dari Montessori menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran hibrida (hybrid learning) mereka.
• ​Pelatihan Tim: Tim kepemimpinan dan pengajar telah berpartisipasi dalam beberapa sesi pelatihan yang diselenggarakan melalui program Stanford Seed, baik secara tatap muka maupun daring.

Eric Gonzalez, Pendiri Empathy, turut menambahkan pandangannya mengenai esensi sekolah ini. “Kami sangat peduli dengan kesuksesan akademik. Namun, kami juga percaya anak-anak harus belajar bagaimana cara bekerja sama, memahami orang lain, dan memahami diri mereka sendiri. Keterampilan manusiawi (human skills) tersebut sama pentingnya bagi kehidupan seperti halnya prestasi akademik.”
Mengedepankan Transparansi dan Dialog Terbuka
​Pihak sekolah menyadari sepenuhnya bahwa isu administratif dapat menimbulkan pertanyaan di kalangan orang tua murid. Oleh karena itu, Empathy School mengedepankan prinsip transparansi, komunikasi terbuka, serta dialog konstruktif dengan pihak keluarga dan instansi pemerintah terkait.
​”Kami memahami bahwa kepastian sangat penting bagi keluarga,” kata Abi Ardianda menutup pernyataannya. “Sebuah komunitas belajar bukan sekadar urusan dokumen atau izin. Bagi banyak keluarga, Empathy telah menjadi rumah kedua. Kami memikul tanggung jawab besar itu dengan penuh kehati-hatian.” jelas Gonzales
Reporter : Daniel Herry



